-
Discover
-
Spotlight
- Jelajahi Orang
Kutikata.com 2026
TUNGGU BETA DI MURKELE
Tulisan ini berdassrkan catatan La Yusrie
Budayawan Buton | Pendiri The La Saila Institute
---'-------
BETAPA cepat semua menggelinding, berita Ekspedisi La Yusri telah sampai di Gunung Murkele, gunung tertinggi kedua sesudah Binaya di Pulau Seram.
Murkele, atau sebagian menyebutnya Nurkele adalah gunung keramat yang disucikan. Kawasan ini dijaga dan dirawat oleh suku pribumi tertua Alifuru Ina yang hidup di Nunusaku, kawasan cagar yang membentang luas dari Manusa Manuwei di Seram Barat sampai Manusela di Seram Tengah.
Menurut pengakuan Yusri, seorang anak adat menghubunginya melalui pesan facebook. Mereka kemudian bertukar kisah dan saling memberi nomor kontak.
Anak muda tersebut lalu meneleponnya dan bertanya macam-macam banyak sekali.
"Barangkali ia sedang menguji pengetahuan saya mengenai suku-suku di pegunungan Pulau Seram," kata Yusri dalam tulisannya di medsos.
Menurut Yuzri, anak itu berkata jika ada banyak orang sebelumnya yang datang ke sini mencari dan meneliti tetapi tidak menemukan apa-apa dan lalu pulang tanpa juga membawa apa-apa.
Anak muda tersebut menegaskan jika orang-orang di sini sangat tertutup bagi orang asing di luar komune adat mereka, ada banyak rahasia disimpan menjadi terus rahasia, hanya dibuka kecuali bagi yang dianggap anak adat oleh mereka.
"Apa yang abang ketahui tentang negeri Nusa Ina ini?" tanya anak muda itu.
Yusri kemudian menjawab dan memulai membuka pelan-pelan beberapa yang diketahuinya, beberapahal yang bagi masyarakat di sana adalah hal yang "rahasia".
Di Maraina, desa terluar sebelum mencapai Manusela terdapat curuk pancuran, air tempat mandi Sultan Buton, dinamai air itu Wae Hutuno, atau Air Buton, saya ingin mencapai tempat itu untuk tak hanya mandi tetapi juga meminum airnya.
"Mari saya juga kisahkan perihal leluhur kami dari Buton atau Butun yang kalian menyebutnya Hutuno," kata Yuzri.
Adalah La Ode Wuna, datang dari pulau Buton atau Butun dan lidah kalian melafalkannya "Hutuno", menepi di Tanjung Sial menggendong dua buah kelapa--konon kelapa yang ditanamnya di sana masih ada sampai sekarang, ia lalu menaiki pegunungan.
Sebagian cerita dari selatan menyebut rute pelayarannya, dari Buton ke pulau Seram, melabuhkan kapalnya di negeri Haya sebelum menaiki pegunungan untuk mendirikan kerajaan, apa perlu saya menuliskan juga nama hewan tunggangan kendaranya?
Ia tiba di Manusela dalam bentuknya seperti yang dimitoskan orang-orang, setengah badannya berwujud ular. Ular itulah sebenarnya tunggangan kendaranya.
Di Manusela, pada sebuah batu ia duduk, melilitkan ekornya di sana dan seketika berubahlah rupanya ke sebenarnya wujudnya manusia, begitu gagahnya, itu menunjukan kebesaran karamahnya.
Sebuah tongkat kepemimpinan diberikan kepadanya, sesudah ia menikahi perempuan bangsawan Koria di suku itu, itu terdapat dalam Kapata tetapi kalian menyimpannya untuk disembunyikan.
La Ode Wuna mempunyai dua orang istri, istri pertama di Manusela, dan seorang lagi istrinya di Sahulau. Dengan istrinya di Manusela ia mempunyai tujuh orang anak, berkelamin lelaki semua anak-anaknya itu, perlukah juga saya tuliskan nama ketujuh anaknya itu?.
Anak-anak dan cucu La Ode Wuna menyebar di seluruh negeri adat di Maluku membawa kebesaran ayahanda mereka, mengikat identitas mereka dalam nama marga Lilihata.
Bahkan simbol Siwalima dalam logo provinsi Maluku sekarang adalah buatan anak-anak cucunya, sesuatu yang ini ditutupi sebagai kalian menganggapnya "rahasia"
Batu tempat La Ode Wuna mengubah wujudnya dari setengah ular ke seutuhnya manusia itu masih ada di Manusela sampai sekarang, dijaga oleh kerabat kepala suku bermarga Ilelapotoa, bahkan persis lokasi tempatnya saya tahu.
Di desa Yalahatan, negeri Tamilow, selatan pulau Seram, sebelum tinggal di pesisir sekarang mereka adalah komune adat yang turun dari Hatumari di gunung sembilan, tepat di bawah Manusela. Orang-orang dari negeri inilah yang mengikat Patasiwa dan Patalima, dua negeri terbentuk sesudah pembunuhan Hainuwele dalam mitos putri cantik Hainuwele.
Makam La Ode Wuna terdapat di Hatumari itu bersebelahan lahatnya dengan seorang syeh bernama Datuk Wailisa atau Syeh Maulana. Orang-orang bermarga Pauwae tahu betul cerita itu.
Suku-suku di pulau seram ada banyak, tetapi yang memegang kunci rahasia sejarah pulau Seram--Nusa Ina, atau pulau Ibu, hanyalah mereka yang bermarga: Ilela, Ilelapotoa, Latumutuani, Amanukuani, Nusalelu, dan Pauwae
Saya masih mau meneruskan berbicara, tetapi suara tangis tercekat cukup berat terdengar kini. "Sudah abang, abang datang sudah di nusa ina ini, kami siapkan upacara dan sirih pinang untuk menyambut"
Ia lalu memohon pamit, dan sesudah mengucap salam, telepon ditutupnya, barangkali sembari ia membatin kebingungan, siapakah yang akan datang ini, mengapa ia tahu banyak hal "rahasia"?
Begitulah kearifan anak-anak adat di Manusela pulau Seram, menyambut yang dianggap oleh mereka sebagai juga anak adat dengan tangisan bahagia.
Saya tak mengenalnya, dan barangkali diapun juga demikian, tetapi kisah kami yang saling bertaut menyambung, rahasia-rahasia Nusa Ina yang saya ungkapkan dan tidak saya tuliskan di sini, barangkali telah mengetuk nuraninya, sampai pada keyakinannya bahwa sekali ini, orang yang akan datang ini berbeda dengan yang datang lalu lalu.
Menjadilah dirinya menjadi dekat sejak itu, membawa juga jiwa bertaut menyambung.
"Ketika mendengar dia menangis, entah mengapa tergetar juga jiwa di dada, saya pun ikut juga menangis. Seorang lagi bertambah saudaraku," kata Yusri diakhir tulisannya. (*)