-
Discover
-
Spotlight
- Jelajahi Orang
Kutikata.com 2026
AMBON, KutiKata.com - Menjelang 25 April, suasana di Negeri Tuhaha, Kecamatan Saparua Timur, Kabupaten Maluku Tengah, tetap berjalan seperti biasa. Aktivitas warga berlangsung tenang, anak-anak bermain di halaman rumah, sementara para orang tua sibuk dengan pekerjaan sehari-hari. Namun di balik ketenangan itu, tersimpan sikap tegas masyarakat adat Tuhaha terhadap segala bentuk aktivitas yang berkaitan dengan Republik Maluku Selatan (RMS).
Bagi masyarakat Tuhaha, menjaga kedamaian negeri jauh lebih penting dibanding membiarkan munculnya hal-hal yang berpotensi memicu keresahan. Sikap itu ditegaskan tokoh adat Negeri Tuhaha, Corneles Louhenapessy (62), yang menjabat sebagai Kepala Soa Pilaulu Negeri Tuhaha, dalam pertemuan yang berlangsung pada 15 April 2026.
Dengan nada tegas, Louhenapessy menegaskan masyarakat adat Negeri Tuhaha tidak memberikan ruang bagi kehadiran maupun aktivitas yang berafiliasi dengan RMS di wilayah mereka. Menurutnya, penolakan tersebut bukan sekadar sikap politik, tetapi bagian dari komitmen menjaga Negeri Tuhaha tetap aman, damai, dan setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
“Bagi kami, menjaga negeri tetap aman adalah yang utama. Kami tidak ingin ada hal-hal yang dapat memecah persatuan masyarakat atau memicu gangguan keamanan,” ujarnya.
Ia menilai, menjelang momentum yang dianggap sensitif setiap tahunnya, seluruh elemen masyarakat harus lebih waspada dan mengedepankan kebersamaan. Menurut Louhenapessy, kehidupan masyarakat Tuhaha yang selama ini hidup rukun harus terus dipertahankan, tanpa dipengaruhi oleh kepentingan-kepentingan yang dapat menimbulkan gesekan sosial.
Kerukunan antarumat beragama dan hubungan baik antarmasyarakat, kata dia, menjadi fondasi utama yang selama ini menjaga Tuhaha tetap harmonis. Karena itu, masyarakat diminta tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu yang berpotensi mengganggu persaudaraan, baik di dalam negeri maupun dengan negeri-negeri tetangga di Pulau Saparua.
“Kami berkomitmen menjaga hubungan harmonis antarumat beragama dan antarwarga, agar tidak terjadi gesekan sosial, baik di Negeri Tuhaha maupun dengan negeri-negeri tetangga,” katanya.
Sikap tegas masyarakat Tuhaha juga ditunjukkan melalui dukungan penuh kepada aparat keamanan, baik TNI maupun Polri, dalam menjaga stabilitas wilayah. Louhenapessy mengajak masyarakat untuk terus bersinergi dengan aparat, sehingga situasi keamanan tetap terkendali menjelang 25 April.
Bagi masyarakat Tuhaha, menjaga keamanan bukan hanya tugas aparat, tetapi tanggung jawab bersama. Sebab, kedamaian yang dirasakan hari ini merupakan hasil dari persatuan dan kesadaran seluruh warga untuk tetap menjaga negeri mereka dari berbagai potensi konflik.
Di tengah berbagai dinamika yang muncul menjelang peringatan RMS, Negeri Tuhaha memilih berdiri pada satu sikap: menjaga kedamaian, merawat persaudaraan, dan memastikan wilayah mereka tetap aman serta kondusif.