-
Discover
-
Spotlight
- Jelajahi Orang
Kutikata.com 2026
Oleh Ivonne Weeflaar (Jurnalis)
AMBON, KutiKata.com - Republik Maluku Selatan (RMS) sering kali kembali muncul ke permukaan menjelang tanggal 25 April. Isu ini biasanya ramai dibicarakan melalui selebaran, simbol-simbol tertentu, unggahan media sosial, atau narasi yang sengaja dibangun seolah-olah RMS masih memiliki kekuatan besar di Maluku. Padahal, jika dilihat secara nyata di lapangan, keberadaan RMS di Maluku saat ini tidak lagi memiliki ruang sosial maupun dukungan luas dari masyarakat.
RMS memang masih terdengar “nyata” karena terus dihidupkan melalui isu, propaganda, dan narasi dari kelompok kecil tertentu, termasuk pihak-pihak di luar Maluku. Namun dalam realitas sehari-hari, masyarakat Maluku justru hidup dalam semangat persaudaraan, pembangunan, dan menjaga stabilitas daerah. Tidak ada gerakan besar, tidak ada basis dukungan nyata, dan tidak ada legitimasi sosial yang kuat terhadap RMS di tengah masyarakat.
Sebagian besar warga Maluku memahami bahwa RMS bukan lagi sesuatu yang relevan dengan kondisi daerah saat ini. Masyarakat lebih membutuhkan pendidikan yang baik, lapangan pekerjaan, pembangunan infrastruktur, harga kebutuhan pokok yang stabil, dan keamanan yang terjaga. Dibandingkan membicarakan isu lama yang memecah belah, warga Maluku lebih memilih hidup damai dan membangun masa depan bersama.
Penolakan terhadap RMS juga semakin terlihat jelas dari berbagai elemen masyarakat. Tokoh adat, tokoh agama, pemuda, hingga pemerintah negeri di berbagai wilayah secara terbuka menyatakan penolakan terhadap segala bentuk aktivitas yang berkaitan dengan RMS. Sikap ini muncul karena masyarakat sadar bahwa RMS hanya akan membawa perpecahan, mengganggu keamanan, dan merusak hubungan antarwarga yang selama ini sudah terjalin baik.
Di banyak negeri adat di Maluku, masyarakat bahkan secara tegas menyampaikan bahwa wilayah mereka tidak boleh dijadikan tempat untuk aktivitas atau simbol-simbol RMS. Penolakan ini bukan karena adanya tekanan, melainkan karena kesadaran bersama bahwa Maluku saat ini membutuhkan persatuan, bukan konflik baru.
Fakta lain yang tidak bisa dibantah adalah bahwa RMS lebih banyak hidup di ruang propaganda daripada di lapangan. Narasi tentang RMS sering kali dibangun agar terlihat besar, padahal kenyataannya hanya dilakukan oleh kelompok kecil yang tidak mewakili suara mayoritas masyarakat Maluku. Mereka mencoba menciptakan kesan bahwa RMS masih memiliki pengaruh, padahal dukungan terhadap gerakan tersebut sangat minim.
Masyarakat Maluku hari ini jauh lebih dewasa dalam menyikapi isu RMS. Pengalaman konflik di masa lalu menjadi pelajaran penting bahwa perpecahan hanya akan membawa penderitaan. Karena itu, masyarakat kini lebih memilih menjaga persatuan, memperkuat toleransi, dan mendukung pembangunan daerah.
RMS mungkin masih terdengar seolah-olah nyata, tetapi kenyataannya organisasi tersebut tidak lagi memiliki tempat di hati masyarakat Maluku. Yang nyata hari ini adalah semangat masyarakat untuk hidup damai, menjaga kebersamaan, dan membangun Maluku yang lebih maju dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.