-
Discover
-
Spotlight
- Jelajahi Orang
Kutikata.com 2026
TANIWEL, Kutikata.com, - Di bawah naungan langit Taniwel yang membiru, gema lonceng dari Gereja Karmel dan Gereja Silo bersahut-sahutan membelah kesunyian. Di wilayah Klasis Taniwel, dentang besi tua itu melayang menembus pepohonan, membawa getaran yang tak biasa. Sejak abad ke-5 ketika Santo Paulinus dari Nola pertama kali memfungsikan lonceng sebagai pemanggil ibadah hingga Paus Sabinianus mengesahkannya pada abad ke-7—gema besi ini telah dihayati sebagai Vox Dei, suara tak berwujud yang memanggil jiwa-jiwa untuk pulang, berserah, dan terjaga.
Di Jemaat Taniwel, Klasis Taniwel, Seram Bagian Barat gema sakral yang memancar dari menara Gereja Karmel dan Silo itu bertumpu pada kesetiaan seorang pria sederhana: Marcus Riry.
Marcus adalah seorang Tuagama. Sehari-hari, tangannya akrab dengan gagang sapu lidi, menyapu dedaunan gugur, merapikan bangku-bangku kayu, serta memegang waktu ibadah. Pada Sabtu (17/10/2026), di tengah bayang-bayang ancaman jangka panjang Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang kian mengintai rimba, Marcus berdiri di pelataran gereja. Ia memegang sapunya, lalu menatap tajam ke arah jajaran perbukitan hijau Taniwel yang membentang di kejauhan.
Saban hari, sebelum matahari benar-benar tegak atau saat senja merambat turun, Marcus tak pernah sekalipun terlambat membunyikan lonceng. Jemarinya menarik tali dengan ritme yang konsisten. Dentangnya membahana menembus sudut-sudut desa, memanggil umat Jemaat Taniwel untuk melangkah menuju rumah ibadah dan mendengarkan firman.
Namun bagi Marcus, gema yang membahana itu kini memuat pesan ekologis yang jauh lebih luas dan mendalam.
"Lonceng gereja ini bukan sekadar besi yang dipukul hingga berbunyi, melainkan sarana menyampaikan Suara Tuhan untuk memanggil kita agar sadar," tutur Marcus Riri dengan suara yang tenang namun berbobot saat ditemui kutikata.com. "Kalau saya tidak pernah terlambat membunyikan lonceng, itu karena waktu memanggil umat sangatlah penting. Begitu juga dengan menjaga hutan dari Karhutla; kita tidak boleh terlambat sadar, tidak boleh terlambat bertindak sebelum api melahap habis tempat hidup kita."
Dalam pandangan imannya, pemaknaan akan rumah ibadah tidak boleh berhenti pada tembok-tembok beton dan atap bangunan semata. Bagi Marcus, Gereja bukan hanya gedung berarsitektur indah, melainkan seluruh bumi tempat manusia dan makhluk lainnya menghembuskan napas kehidupan.
"Rumah Tuhan itu tidak boleh kita pahami sebagai gedung gereja saja. Seluruh bumi ini adalah Rumah Tuhan, tempat di mana semua makhluk ciptaan-Nya berhak untuk hidup dan melangsungkan kehidupan," tegas Marcus. "Sebagai seorang Tuagama, tanggung jawab saya bukan hanya membersihkan mimbar dan lantai gereja, tetapi juga ikut merawat seluruh ciptaan Tuhan di bumi ini dari ancaman kerusakan dan kebakaran."
Jauh sebelum jam mekanis ditemukan, sejarah mencatat bahwa lonceng gereja tidak hanya memanggil orang untuk berlutut dalam doa. Irama lonceng yang ditabuh cepat dan bertubi-tubi adalah alarm sistem peringatan dini ketika bahaya, banjir, atau api mengancam keselamatan pemukiman warga.
Marcus menarik benang merah yang utuh antara tugasnya merawat Rumah Tuhan di dalam gereja dan kewajiban menjaga Rumah Tuhan yang terhampar di alam terbuka. Menyapu dedaunan di pelataran gereja, baginya, adalah miniatur dari panggilan spiritual yang lebih besar: memelihara dan melindungi hak hidup setiap makhluk ciptaan di bumi.
"Bumi dan hutan ini adalah rumah tempat kita bernapas dan hidup bersama ciptaan lain. Kalau rumah gereja kita sapu dan jaga setiap hari, mengapa bumi sebagai Rumah Tuhan yang lebih besar dibiarkan meranggas dan terbakar oleh kelalaian kita?" ujar Marcus sembari menunjuk pepohonan rindang yang menjadi benteng alam Taniwel.
"Mendengar Suara Tuhan itu bukan hanya saat kita duduk di atas bangku kayu di dalam gereja. Kita juga sedang mendengar Suara Tuhan ketika mendengar jeritan alam yang terancam api. Menjaga lingkungan dari Karhutla adalah bentuk ibadah yang paling nyata."
Ancaman Karhutla sering kali lahir dari sikap abai dan kelalaian yang terlambat diantisipasi. Namun, dari gema lonceng Gereja Karmel dan Silo di Klasis Taniwel, kesetiaan seorang Tuagama memberikan sebuah penawar: kedisiplinan dan kesiapsiagaan yang tak pernah alpa.
Dentang lonceng yang ditarik oleh jemari Marcus Riri kini tak lagi sekadar panggilan ritual, melainkan seruan bertobat secara ekologis—mengajak setiap insan di Taniwel untuk bangkit dari lelapnya, merawat rimba, serta melindungi seluruh ciptaan sebelum api meredupkan hijau bumi untuk selamanya.
(RED)