-
Discover
-
Spotlight
- Jelajahi Orang
Kutikata.com 2026
AMBON, Kutikata.com — Pagi itu, halaman SMA Kristen YPKPM Ambon tidak sekadar menjadi tempat berkumpul. Ia menjelma menjadi ruang tempat keberanian diuji, kreativitas menemukan jalannya, dan semangat berprestasi tumbuh di antara para siswa.
Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-69 SMA Kristen YPKPM Ambon, berbagai kegiatan lomba digelar. Riuh suara siswa, semangat berkompetisi, dan kegembiraan menjadi bagian dari perjalanan menuju usia ke-69 sekolah tersebut.
Rangkaian kegiatan dibuka secara resmi pada Rabu, 7 Oktober 2026. Bunyi tifa menjadi penanda dimulainya seluruh rangkaian kegiatan yang akan berlangsung hingga acara puncak pada 14 Oktober 2026.
Kegiatan tersebut sekaligus dirangkaikan dengan perayaan Bulan Bahasa Oktober 2026.
Namun, di balik kemeriahan lomba, ada pesan pendidikan yang ingin ditanamkan. Bahwa belajar tidak selalu berlangsung di antara papan tulis dan buku pelajaran.
Di arena lomba, siswa belajar tentang keberanian untuk tampil. Mereka belajar bekerja bersama, menghargai kemampuan teman, menerima hasil dengan lapang dan tetap berdiri tegak ketika kemenangan belum berpihak.
Kepala SMA Kristen YPKPM Ambon, Donald W. Dias, mengatakan perlombaan menjadi bagian dari proses pendidikan yang memberikan ruang bagi siswa untuk menemukan sekaligus mengembangkan potensi mereka.
“Anak-anak yang berada di sekolah ini adalah anak-anak yang hebat. Mereka berada di sekolah bukan hanya untuk belajar, tetapi juga untuk menjadi anak-anak yang berprestasi dan luar biasa,” kata Donald saat membuka kegiatan, Rabu, 7 Oktober 2026.
Bagi Donald, pendidikan tidak berhenti pada angka-angka di rapor. Ada karakter yang harus dibangun, keberanian yang perlu ditumbuhkan, serta pengalaman yang harus dilalui seorang anak sebelum menemukan kemampuan terbaik dalam dirinya.
Karena itu, ia mengajak para siswa mengikuti setiap perlombaan dengan penuh semangat, tanpa kehilangan nilai sportivitas dan kebersamaan.
“Yang paling penting bukan hanya siapa yang menang, tetapi bagaimana anak-anak belajar untuk berani tampil, bekerja sama, menghargai orang lain dan memberikan yang terbaik,” ujarnya.
Perjalanan 69 tahun SMA Kristen YPKPM Ambon dirangkum dalam sebuah tema yang sarat makna: “69 Tahun Mengakar dalam Iman, Menggerakkan Inovasi dan Menorehkan Prestasi.”
Iman ditempatkan sebagai akar. Inovasi menjadi gerak. Sementara prestasi adalah buah yang diharapkan tumbuh dari proses pendidikan.
Di situlah perlombaan menemukan maknanya.
Setiap siswa membawa kemampuan yang berbeda. Ada yang berani tampil di depan, ada yang menemukan kekuatannya dalam kerja tim, ada pula yang mungkin baru menyadari bahwa dirinya memiliki kemampuan yang selama ini tersembunyi.
Sekolah menjadi tanah tempat semua potensi itu bertumbuh.
Dalam rangkaian Bulan Bahasa, ruang kreativitas tersebut semakin terbuka. Bahasa tidak hanya hadir sebagai mata pelajaran, tetapi menjadi jalan bagi siswa untuk menyampaikan gagasan, mengekspresikan diri dan mengasah kemampuan berkomunikasi.
Bagi generasi muda, kemampuan berbicara, menulis dan menyampaikan gagasan merupakan bagian dari bekal menghadapi dunia yang terus berubah.
Lomba pada akhirnya bukan hanya tentang siapa yang berdiri paling depan ketika hasil diumumkan.
Ada pelajaran yang jauh lebih panjang setelah sorak kemenangan mereda.
Siswa belajar menerima kekalahan tanpa kehilangan semangat. Mereka belajar menang tanpa merendahkan. Mereka belajar bahwa kerja keras tidak selalu langsung berbuah, tetapi selalu meninggalkan pengalaman.
Nilai-nilai itulah yang ingin terus ditanamkan SMA Kristen YPKPM Ambon kepada para siswanya.
Menjelang usia ke-69, sekolah tidak hanya merayakan perjalanan masa lalu. Ia juga sedang menyiapkan langkah menuju masa depan.
Sebab pendidikan bukan sekadar mencetak siswa yang mampu menjawab soal. Pendidikan adalah proses menumbuhkan manusia yang berani berpikir, mampu bekerja bersama, memiliki karakter dan siap memberikan sesuatu bagi lingkungan di sekitarnya.
Dari halaman sekolah, semangat itu mulai dirayakan. Pemukulan tifa menjadi tanda dimulainya rangkaian kegiatan, sementara seluruh rangkaian lomba akan bermuara pada acara puncak 14 Oktober 2026.
Di antara bunyi tifa, sorak siswa dan semangat berkompetisi, ada harapan yang lebih panjang: agar setiap anak menemukan ruang untuk bertumbuh, berani mencoba, dan membawa pulang bukan hanya kemenangan, tetapi juga pengalaman. (RED)