-
Discover
-
Spotlight
- Jelajahi Orang
Kutikata.com 2026
AMBON, KutiKata.com - Di tengah pesatnya pertumbuhan ekonomi digital, Bank Indonesia (BI) Maluku mempercepat sosialisasi QRIS guna menjawab lonjakan transaksi non-tunai yang terus meningkat di masyarakat.
Guna mendukung hal tersebut, Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Maluku terus mendorong percepatan digitalisasi ekonomi melalui sosialisasi sistem pembayaran, dengan salah satu fokus pada penggunaan QR Code Indonesian Standard (QRIS), di Kota Ambon, Senin (13/4/2026).
Kegiatan yang diikuti puluhan jurnalis ini menjadi bagian dari strategi BI memperluas literasi keuangan digital di tengah meningkatnya tren transaksi non-tunai di masyarakat.
Pelaksana Tugas Kepala Perwakilan BI Maluku, Dhita Aditya Nugraha, menegaskan bahwa peran media sangat penting dalam mempercepat pemahaman publik terhadap sistem pembayaran digital, termasuk QRIS.
“Media memiliki peran krusial dalam menyampaikan informasi yang akurat dan edukatif, khususnya terkait sistem pembayaran digital dan perlindungan konsumen,” ujarnya.
Menurut Dhita, di tengah perkembangan ekonomi yang semakin dinamis, kolaborasi antara BI dan insan pers menjadi kunci agar masyarakat tidak hanya mengikuti tren digital, tetapi juga memahami manfaat dan keamanannya.
Dhita berharap, melalui sosialisasi ini, para jurnalis dapat menyampaikan informasi yang lebih komprehensif kepada masyarakat, sehingga pemanfaatan QRIS dan sistem pembayaran digital semakin meluas.
“Harapannya, masyarakat tidak hanya mengenal QRIS, tetapi juga aktif menggunakannya dalam aktivitas ekonomi sehari-hari,” tandasnya.
Salah satu materi utama dalam sosialisasi ini adalah QRIS, yang kini menjadi tulang punggung transaksi digital nasional. Pemateri, Roynald O Hehanussa, menjelaskan bahwa penggunaan QRIS terus meningkat seiring perubahan perilaku masyarakat ke arah transaksi non-tunai.
“Dulu setiap aplikasi pembayaran punya kode QR sendiri, sehingga menyulitkan. Sekarang cukup satu QRIS, semua aplikasi bisa digunakan. Ini membuat transaksi jauh lebih praktis,” jelasnya.
QRIS sendiri hadir sebagai standar pembayaran digital nasional yang mengintegrasikan berbagai layanan keuangan dalam satu sistem. Dengan teknologi ini, masyarakat cukup memindai satu k
ode QR untuk bertransaksi menggunakan berbagai platform seperti OVO, GoPay, DANA, maupun mobile banking.
Hehanussa menambahkan, keunggulan QRIS tidak hanya pada kemudahan, tetapi juga efisiensi dan kecepatan transaksi yang berlangsung secara real-time. Selain itu, QRIS kini juga mulai mendukung transaksi lintas negara, membuka peluang lebih besar bagi pelaku usaha, khususnya UMKM, untuk menjangkau pasar global.
“QRIS itu universal, mudah, dan langsung. Ini sangat membantu pelaku usaha kecil karena transaksi jadi lebih cepat dan tercatat dengan baik,” ujarnya.
Dalam paparannya, ia juga menjelaskan dua jenis QRIS yang digunakan saat ini, yakni QRIS statis yang nominalnya diinput oleh pengguna, serta QRIS dinamis yang nominalnya otomatis muncul sehingga meminimalkan kesalahan transaksi.
BI menilai, adopsi QRIS menjadi langkah strategis dalam memperkuat ekosistem ekonomi digital, sekaligus mendukung inklusi keuangan di daerah, termasuk Maluku.
Sebagai bagian dari upaya tersebut, BI Maluku juga akan menggelar kegiatan bertajuk “Salam Hebat” pada 16–18 April 2026, yang difokuskan pada pengembangan UMKM dan pemulihan ekonomi daerah melalui pemanfaatan teknologi digital.