Dari Budaya ke Ruang Digital, Pemuda Maluku Diajak Berkarya dan Menggerakkan Perubahan

AMBON, Kutikata.com,— Bunyi tifa menandai dimulainya sebuah perjumpaan generasi. Di dalam ruang yang mempertemukan pelajar dari jenjang sekolah dasar hingga perguruan tinggi di Kota Ambon, kebudayaan, kreativitas, teknologi, dan semangat kebangsaan bertemu dalam satu gagasan: generasi muda tidak boleh hanya menjadi penonton atas perubahan zaman.

Melalui kegiatan Ambon Youth Campus, anak-anak muda Maluku diajak menengok kembali akar budaya yang mereka miliki. Namun, mereka juga didorong untuk melangkah lebih jauh, menjadikan warisan itu sebagai sumber inspirasi bagi lahirnya karya dan gagasan baru.

Kebudayaan, dalam perjumpaan itu, tidak ditempatkan sebagai benda masa lalu yang cukup dikenang. Ia dihadirkan sebagai ruang hidup yang terus bergerak bersama generasi yang menjaganya.

Ketua LSM Ikatan Anak Muda Maluku (IAMM), Vanesia Lesnussa, mengatakan generasi muda memiliki peran penting dalam menjaga ingatan sejarah sekaligus mengambil bagian dalam perjalanan masa depan.

Menurutnya, semangat dan warisan yang ditinggalkan generasi sebelumnya tidak cukup hanya dikenang.

“Tidak cukup hanya dikenang, tetapi harus diteruskan melalui karya dan kontribusi nyata,” kata Vanesia dalam kegiatan yang dipusatkan di Aula Universitas Kristen Indonesia Maluku di Ambon, Sabtu, 31 Oktober 2026.

Pesan itu kemudian mengarah pada tantangan yang kini dihadapi anak-anak muda. Di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat, generasi muda Maluku tidak hanya diharapkan menjadi pengguna, tetapi juga pencipta.

“Jangan hanya menjadi penonton dalam pembangunan. Jadilah pelaku perubahan dan mulailah dari sekarang,” pesannya kepada para peserta.

Lesnussa menjelaskan agenda IAMM telah didahului dengan perlombaan yang diikuti siswa SD,SMP dan SMA.  Sebanyak 44 tim dengan sekitar 140 peserta mengambil bagian dalam kegiatan tersebut.

“ Untuk tingkat SMP dan SMA mengikuti lomba video kreatif serta baca puisi oleh siswa tingkat SD,’ katanya.

Menurutnya, angka itu lebih dari sekadar jumlah peserta lomba. Di dalamnya ada semangat anak-anak muda yang membutuhkan ruang, kesempatan, dan kepercayaan untuk menumbuhkan potensi yang mereka miliki.

Vanesia juga menyampaikan apresiasi kepada Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah Maluku, Dinas Pendidikan Provinsi Maluku, Dinas Pendidikan Kota Ambon, pimpinan sekolah, guru, dan para pelajar yang terlibat dalam kegiatan tersebut.

Kolaborasi menjadi penting karena pelestarian kebudayaan, menurutnya, tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja.

Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah Maluku, Dody Wiranto, memandang generasi muda sebagai mitra strategis dalam menjaga keberlanjutan kebudayaan.

Tradisi, musik, permainan tradisional, dan berbagai kekayaan yang tumbuh di Maluku, katanya, dapat menjadi sumber pembelajaran sekaligus inspirasi bagi lahirnya kreativitas baru.

Pelestarian budaya pun tidak seharusnya berhenti pada kegiatan seremonial atau sekadar mengenang apa yang diwariskan dari masa lalu.

“Melalui kegiatan semacam ini, pelestarian budaya diharapkan tidak berhenti pada kegiatan seremonial atau sekadar mengenang warisan masa lalu,” tandasnya.

Warisan leluhur, dengan demikian, bukan sesuatu yang ditinggalkan di belakang. Ia dapat menjadi pijakan bagi generasi muda untuk bergerak, berkolaborasi, dan mengambil bagian dalam pembangunan.

Di tengah semangat tentang budaya dan karya, Wakil Wali Kota Ambon, Eli Tousutta, dalam sambutan pun mengingatkan bahwa perjuangan generasi muda kini juga berlangsung di ruang yang berbeda.

Jika pada 1928 para pemuda mengikrarkan Sumpah Pemuda sebagai penanda persatuan, generasi hari ini menghadapi tantangan baru yang hadir melalui layar telepon dan media sosial.

Menurut Eli, kegiatan tersebut merupakan cara kreatif dan kekinian untuk memperingati semangat Sumpah Pemuda.

“Kalau dulu pemuda berikrar dengan sumpah, hari ini pemuda berjuang melawan hoaks, disinformasi, dan narasi provokatif di media sosial,” ujarnya.

Medan perjuangan, kata dia, kini telah memasuki ruang digital.

Karena itu, kegiatan yang diisi dengan talkshow, kompetisi kreatif, dan festival tersebut diharapkan dapat memperkuat literasi digital dan wawasan kebangsaan para peserta. Bersamaan dengan itu, generasi muda juga diajak memahami sejarah Maluku sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari Indonesia.

Eli berharap nilai persatuan, toleransi, dan kebersamaan dapat tumbuh dalam karakter anak-anak muda Ambon.

Lebih jauh, ia mengajak para pemuda untuk mengambil alih arah percakapan di media sosial.

Ruang digital yang kerap dipenuhi konten negatif, menurutnya, perlu diubah menjadi ruang untuk menyebarkan narasi positif tentang kebangsaan, kebudayaan Maluku, Kota Ambon, dan berbagai karya kreatif anak muda.

“Selaku Wakil Wali Kota Ambon, saya bangga pada kalian. Kalian adalah generasi yang membangun Maluku, khususnya Kota Ambon, dengan karya, bukan dengan kata-kata yang negatif,” katanya.

Ia mengajak generasi muda menjadikan identitas Maluku dan nilai toleransi sebagai kekuatan untuk menghasilkan konten yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mengedukasi dan menginspirasi.

Gagasan tentang ruang digital sebagai medan baru bagi generasi muda juga disampaikan Kepala Bidang Layanan Kominfo Provinsi Maluku, Andreas Yules Handono.

Melalui materi bertajuk “Maluku Membangun, Wujud Nyata Sumpah Pemuda di Era Digital”, Andreas menggambarkan perubahan besar yang dibawa oleh perkembangan internet dan media sosial.

Teknologi telah mengubah cara masyarakat berinteraksi, memperoleh informasi, hingga membuka peluang ekonomi. Bagi generasi muda, perubahan itu menghadirkan kesempatan sekaligus tantangan.

Ruang digital, menurutnya, tidak boleh hanya menjadi tempat untuk menghabiskan waktu atau menjadi konsumen tanpa henti.

“Tantangan hari ini bukan sekadar bisa memakai teknologi, tetapi mampu menghasilkan karya,” menjadi salah satu pesan yang disampaikan dalam materinya.

Bagi Maluku, ruang digital dapat menjadi jendela yang membuka cerita dari pulau-pulau kecil kepada dunia yang lebih luas.

Kebudayaan, usaha kecil, wisata bahari, hingga cerita tentang kehidupan masyarakat di desa dapat dikemas dan diperkenalkan melalui karya-karya kreatif generasi muda.

Namun, ruang yang sama juga menyimpan risiko.

Hoaks, penipuan daring, perundungan siber, kebocoran data pribadi, serta informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan menjadi tantangan yang harus dihadapi dengan kemampuan literasi.

Generasi muda, karena itu, tidak hanya dituntut kreatif, tetapi juga cakap dalam memeriksa informasi, menjaga etika berkomunikasi, serta melindungi keamanan akun dan data pribadi.

Tantangan itu menjadi lebih kompleks bagi Maluku sebagai daerah kepulauan. Pemerataan akses internet, kualitas jaringan, ketersediaan perangkat, dan biaya konektivitas masih menjadi pekerjaan yang harus dihadapi bersama.

Namun, keterbatasan tidak boleh menghentikan langkah.

Kolaborasi antara pemerintah, sekolah, komunitas, pelaku usaha, dan generasi muda menjadi jalan untuk memperluas akses sekaligus meningkatkan kemampuan masyarakat dalam memanfaatkan teknologi.

Di ruang digital, semangat persatuan yang diwariskan Sumpah Pemuda pun menemukan bentuk baru.

Perbedaan suku, agama, budaya, dan bahasa tidak seharusnya menjadi bahan untuk memperbesar permusuhan di media sosial. Sebaliknya, ruang digital dapat menjadi jembatan yang mempertemukan gagasan dan memperkuat persaudaraan.

Semangat itu dirangkum dalam satu pesan: Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa, Satu Ruang Digital.

Namun, perubahan tidak hanya dimulai dari layar.

Eli Tousutta juga mengajak generasi muda untuk menjaga Kota Ambon agar tetap aman, harmonis, dan menjadi ruang hidup yang baik bagi seluruh masyarakat.

Energi anak muda, menurutnya, perlu diarahkan kepada kegiatan-kegiatan yang positif dan produktif. Pesan itu kemudian berkelindan dengan persoalan lingkungan yang tengah dihadapi.

Di tengah dampak El Nino dan musim kemarau yang berkepanjangan, kepedulian terhadap alam menjadi bagian dari tanggung jawab bersama.

“Ketika kita menjaga alam, alam akan menjaga kita,” ujarnya.

Ia mengingatkan masyarakat agar tidak membuang sampah sembarangan maupun melakukan pembakaran lahan secara sengaja. Dampaknya, kata dia, tidak hanya akan dirasakan oleh satu atau dua orang, tetapi seluruh warga kota.

Sore itu, pemukulan tifa menjadi penanda dibukanya kegiatan. Namun, pesan yang lahir dari perjumpaan tersebut tidak berhenti pada seremoni.

Di hadapan para pelajar, terbentang sebuah ajakan untuk memaknai ulang peran generasi muda: menjaga budaya tanpa terjebak di masa lalu, menguasai teknologi tanpa kehilangan jati diri, serta berkarya di ruang digital tanpa melupakan lingkungan tempat mereka berpijak.

Dari budaya menuju karya, dari karya menuju perubahan, generasi muda Maluku kini memiliki ruang yang semakin luas untuk menentukan arah masa depannya.

Warisan leluhur menjadi akar. Teknologi menjadi alat. Dan karya menjadi bahasa baru untuk menyuarakan Maluku kepada Indonesia dan dunia. (RED)