-
Discover
-
Spotlight
- Jelajahi Orang
Kutikata.com 2026
Maluku merupakan daerah para raja yang tiap daerah memiliki keunikan tersendiri yang tetap terjaga dan terpelihara hingga saat ini.
Salah satunya ada di Negeri Tuhaha (Beinusa Amalatu) Kecamatan Saparua Timur Kabupaten Maluku Tengah Provinsi Maluku.
Negeri Tuhaha berada di Pulau Saoarua yang kini menjadi ibukota Kecamatan Saparua Timur. Berjarak sekitar 6 km dari Kota Saparua.
Negeri ini dikelilingi Pantai Manggrove yang cukup rimbun. Mata pencaharian masyarakat didominasi petani dan nelayan serta pedagang.
Di Negeri Tuhaha ada tradisi memiliki Tradisi Ibadah Mangko 6 bulan yang cukup unik. Ibadah ini telah dilaksanakan ribuan tahun dan tetap dilaksanakan tiap enam bulan sekali atau dua kali setahun.
Ritual ini hanya ada di Negeri Tuhaha dan tidak ada di negeri lainnya di Saparua bahkan Maluku.
Terbentuknya ibadah Mangko 6 Bulan diawali dengan kisah masa lalu penempatan kawasan yang kini ditempati di Negeri Tuhaha.
Alkisah di zaman dulu, masyarakat Negeri Tuhaha atau Negeri Beinusa Amalatu belum menempati kawasan yang kini dijadikan pemukiman.
Para leluhur yang datang dari Nunusaku Pulau Seram tiba di Pulau Saparua kemudian membangun permukiman di pegunungan yang dikenal sebagai Amano. Amano sering diartikan pula sebagai negeri lama.
Sayangnya di kawasan tersebut, dalam penilaian para leluhur yang terdiri dati para Kapitang, tanahnya tandus karena banyak bebatuan serta jauh dari pantai.
Atas kesepakatan bersama para Kapitang, guru injil (Pendeta) dan masyarakat mencari tempat yang layak yakni daerah yang subur tanahnya dan letaknya harus di pesisir agar masyarakat mudah mencari ikan.
Setelah melalui perdebatan sengit, akhirnya penentuan lokasi yang bakal ditempati dilakukan melalui undian dengan diawali dengan proses ibadah.
Dan, hasil undian menunjukan lokasi yang kini ditempati masyarakat Negeri Tuhaha.
Akhirnya, masyarakat dipimpin mata rumah masing-masing turun ke pesisir untuk memulai kehidupan baru di tanah yang ditunjukan Tuhan.
Tuhaha memiliki tujuh negeri lama, yakni Negeri Huhule, Negeri Amapatal, Negeri Talehu, Negeri Amapuano, Negeri Apalili, Negeri Tahapau, Negeri Matalete.
Negeri Huhule didiami family atau marga Aipassa yang memegang tampuk kepemimpinan selama negeri berada di pegunungan.
Selain itu, ada pula fam Matakena, Pattilekasapija, Sahanaya, Sasabone, Siwalete, dan Tehusyarana.
Setelah kekalahan Kerajaan Iha, salah satu fam dari sana yaitu Sopacua mengungsi dan menjadi bagian dari Negeri Huhule.
Ada pula fam Pattipeiluhu, keturunan dari Kapitan Pattilapa yang berasal dari keluarga Pattipeilohy di Ullath.
Pattipeiluhu ikut serta dalam misi Ullath membantu Belanda melawan Kerajaan Iha. Selepas perang, tinggal di Huhule karena berkedudukan sebagai panglima pernah dan bertugas untuk mengawal Kapitan Besar Aipassa.
Negeri Amapatal didiami fam Lopulisa, Matakena, dan Supusepa.
Negeri Talehu didiami fam Paliama dan Sahusilawane.
Negeri Amapuano didiami oleh fam Louhenapessy, Polhaupessy, dan Tanalepy.
Negeri Apalili didiami oleh fam Malakouseja, Sahetapy, dan Taberima.
Negeri Tahapau didiami oleh fam Loupatty, Makailipessy, dan Tatipikalawan.
Negeri Matalete. Negeri lama Matalete adalah salah satu tanah milik Kerajaan Iha yang dibagi-bagikan Belanda kepada pihak yang membantunya dalam menaklukkan Kerajaan Iha dalam Perang Iha. Tanah Matalete dihadiahkan kepada Tuhaha.
Kemudian Tanah Hatala yang berdekatan diberikan kepada Negeri Saparua namun ditolak dan akhirnya diberikan kepada Tuhaha.
Matalete didiami fam Pollatu, ada pula fam Taribuka.
Fam Taribuka adalah orang Iha yang mengungsi dari kejaran Belanda dan kemudian menggabungkan diri ke dalam masyarakat Tuhaha.
Fam-fam asli dari Tuhaha adalah fam yang mendiami negeri lama (Huhule, Amapatal, Amapuano, Matalete, Apalili, Tahapau) sebelum turun ke pantai dan membentuk negeri yang sekarang.
Sebagai bentuk syukur, maka setiap tahun dilaksanakan ibadah syuluran yang dikenal dengan Ibadah Mangko 6 bulan, yakni ibadah di gereja akhir Desember dan awal Juni.
Ibadah ini diawali dengan pungutan persembahan syukur oleh penatua atau Majelis Jemaat dari rumah ke rumah sebelum fajar menyingsing.
Seluruh masyarakat keturunan Beinusa Amalatu di seluruh dunia diwajibkan kembali atau pulang ke Beinusa Amalatu mulai dari anak dalam kandungan hingga orang tua berambut putih.
Namun seiring berjalannya waktu, kehadiran anak cucu Beinusa Amalatu bisa diwakilkan kepada keluarga dengan memberikan persembahan syukur.
Ibadah ini sebagai bentuk syukuran anak cucu karena Tuhan dan leluhur telah menentukan lokasi yang sesuai dengan keinginan masyarakat yakni tanah subur serta berada di pesisir pantai. Masyarakatnya, terkenal pekerja keras dan ulet.
Tuhaha tergolong sebagai negeri pesisir dan terletak di jazirah bagian utara Pulau Saparua yang terkenal dengan nama Jazirah Hatawano bersama dengan Kampong, Mahu, Ihamahu, Iha, Nolloth, dan Itawaka.
Tuhaha merupakan ibu kota dari Kecamatan Saparua Timur, Maluku Tengah.
Berikut adalah fam-fam asli Tuhaha, seperti, Aipassa, Lopulisa, Louhenapessy, Loupatty, Makaililepessy, Malakouseja, Matakena, Paliama, Pattilekasapija, Polhaupessy, Pollatu, Sahanaya, Sahetapy, Sahusilawane, Sasabone, Siwalete, Supusepa, Taberima, Tanalepy, Tatipikalawan, Tehusyarana.
Sementara itu ada juga Fam pendatang yakni fam yang berasal dari negeri lain, tetapi sudah menetap secara turun temurun di Tuhaha.
Beberapa di antaranya bahkan telah bergabung menjadi masyarakat Tuhaha sejak masih berada di negeri lama (sebelum tahun 1670).
Fam pendatang di Tuhaha, Hallatu, Latuhenawakan, Makelupessy, Matahelumual, Nanuwasa, Nustan, Pakalesia, Pattileka, Pattipeiluhu (asal Ullath), Peilokonon, Sapija, Sopacua (asal Iha), Taribuka (asal Iha), Tehumana, Telupatawala, Tolmolya.
Sayangnya, dalam catatan sejarah, ada beberapa fam pendatang yang sudah ratusan tahun mendiami Negeri Tuhaha namun tidak dicatatkan, misalnya Fam Wee'flaar, Hendriks dan Diasz. (*)