-
Discover
-
Spotlight
- Jelajahi Orang
Kutikata.com 2026
Hatalai, — Kabut menyelimuti daratan, udara terasa muram, dan batuk mengganggu sebagian anak-anak serta orang tua. Di tengah ketidakpastian itu, ketakutan perlahan tumbuh: bagaimana jika api menjalar dan melalap tanaman serta lingkungan tempat mereka menggantungkan kehidupan?
Namun, dari mimbar Gedung Jemaat Gereja Protestan Maluku (GPM) Hatalai, Klasis Pulau Ambon, Minggu 25 Oktober 2026, Pendeta Ampi Nahuwae mengajak jemaat memandang kecemasan dengan mata iman. Di tengah ancaman dan kekhawatiran, manusia diingatkan bahwa pengharapan tidak seharusnya padam hanya karena keadaan di sekelilingnya berubah.
Melalui pemberitaan firman Tuhan yang berlandaskan Kisah Para Rasul 27:14–26, Pendeta Ampi Nahuwae membawa jemaat menyusuri kembali perjalanan Rasul Paulus di tengah badai laut. Sebuah kisah tentang manusia yang kehilangan ketenangan ketika alam menunjukkan kuasanya, tetapi menemukan kekuatan ketika iman menjadi tempat berpegang.
Badai yang dihadapi Paulus berabad-abad silam seolah menemukan gema dalam kehidupan jemaat hari ini. Jika dahulu ombak mengguncang kapal dan mengancam keselamatan para penumpangnya, kini kabut asap menghadirkan kecemasan tersendiri bagi masyarakat yang khawatir akan kesehatan keluarga dan keselamatan lingkungan.
Di Hatalai, rasa syukur masih terucap karena wilayah itu, menurut kesaksian dalam khotbah, masih aman dari ancaman kebakaran. Namun, rasa aman tersebut tidak menghapus kegelisahan. Di balik udara berkabut, tersimpan harapan agar api tidak mendekat dan kehidupan masyarakat tetap terlindungi.
“Dengan takut akan Tuhan, semua masa depan diserahkan kepada Tuhan Yesus,” menjadi pesan iman yang menguatkan perenungan jemaat.
Bagi Pendeta Nahuwae, kehidupan yang masih dapat dijalani hingga hari ini merupakan alasan untuk bersyukur atas kasih Tuhan. Sebab, manusia tidak selalu sanggup mengendalikan badai yang datang, tetapi dapat memilih untuk tidak kehilangan pengharapan ketika badai itu menerpa.
Ketika Ketakutan Menguasai Kapal Kehidupan
Dalam kisah perjalanan Paulus, badai bukan sekadar peristiwa alam. Ia menjadi gambaran tentang rapuhnya manusia ketika berhadapan dengan sesuatu yang melampaui kemampuan dan perhitungannya.
Orang-orang yang berada di kapal itu bukan tidak memiliki pengalaman. Namun, ketika bahaya datang, ketakutan tetap menguasai mereka. Muatan kapal dibuang ke laut demi mempertahankan keselamatan. Dalam keadaan terdesak, segala sesuatu yang sebelumnya dianggap berharga dapat kehilangan arti ketika nyawa berada dalam ancaman.
Pendeta Ampi Nahuwae mengajak jemaat merenungkan tiga gambaran ketakutan dalam kisah tersebut.
Pertama, ketakutan yang membuat manusia kehilangan ketenangan, bahkan ketika pengalaman seharusnya menolongnya menghadapi keadaan. Rasa takut dapat mengaburkan pikiran dan membuat seseorang bertindak tanpa pertimbangan yang jernih.
Kedua, ketakutan yang tumbuh di antara sesama manusia. Ketika bahaya datang, setiap orang bergumul dengan kecemasannya sendiri. Hubungan antarmanusia pun diuji oleh ketidakpastian dan ancaman yang mereka hadapi bersama.
Ketiga, ketakutan yang juga hadir dalam perjalanan Paulus. Ia bukan manusia yang terbebas dari ancaman, tetapi di tengah keadaan genting itu, ia menerima penguatan melalui pesan malaikat Tuhan.
Dari pengalaman Paulus, jemaat diajak memahami bahwa iman tidak berarti manusia tidak pernah takut. Iman justru diuji ketika ketakutan hadir dan seseorang harus menentukan kepada siapa ia akan bersandar.
Di tengah kabut asap, pertanyaan itu terasa dekat: apakah manusia akan dikuasai kepanikan, menyerah pada kecemasan, atau tetap berpegang pada Tuhan yang menjadi sumber pengharapan?
Mengingat Tuhan Ketika Pandangan Menjadi Kabur
Ada kalanya kabut bukan hanya menutupi jalan di hadapan mata, tetapi juga menyelimuti pikiran dan hati. Manusia menjadi sulit melihat jalan keluar. Kekhawatiran terhadap hari esok perlahan mengambil ruang yang seharusnya diisi pengharapan.
Karena itu, Pendeta Ampi Nahuwae mengingatkan jemaat untuk mengingat kembali siapa pelindung kehidupan mereka.
Ketika ketakutan datang, manusia kerap merasa seolah-olah harus menghadapi semuanya seorang diri. Padahal, dalam iman Kristen, kasih Tuhan diyakini tetap menyertai umat-Nya, bahkan ketika keadaan tidak berjalan sesuai harapan.
Badai kehidupan tidak dapat memisahkan manusia dari kasih Tuhan yang tidak berkesudahan. Pesan inilah yang menjadi pegangan agar jemaat tidak kehilangan arah ketika menghadapi persoalan.
Namun, bersandar kepada Tuhan juga menuntut kerendahan hati. Manusia diajak mengakui keterbatasannya, berlutut dalam doa, dan memohon petunjuk-Nya. Bukan karena usaha manusia tidak berarti, melainkan karena kehidupan membutuhkan hikmat untuk menentukan langkah di tengah keadaan yang sulit.
Pegangan berikutnya adalah janji Tuhan. Firman tidak hanya dibaca dan didengar, tetapi dihayati serta diperkatakan dalam kehidupan sehari-hari. Melalui firman, orang percaya mencari kekuatan untuk menjaga hati agar tidak dikuasai ketakutan.
Di antara doa yang dipanjatkan dan langkah yang harus diambil, iman memberi ruang bagi manusia untuk tetap tenang, berpikir jernih, serta merawat kepedulian terhadap sesama.
Mendidik Anak agar Tidak Kalah oleh Ketakutan
Pesan dari mimbar Hatalai juga menjangkau kehidupan keluarga. Anak-anak sebagai generasi penerus perlu belajar menghadapi rasa takut tanpa membiarkan perasaan itu menguasai diri mereka.
Pendeta Ampi Nahuwae mengajak orang tua membangun kebiasaan duduk bersama anak-anak, berbicara, mendengarkan kegelisahan mereka, dan membimbing mereka menghadapi persoalan dengan iman.
Sebab, anak-anak tidak hanya belajar dari kata-kata yang disampaikan orang tua. Mereka juga belajar dari cara orang tua menghadapi kesulitan, berdoa ketika cemas, dan memperlakukan sesama ketika keadaan tidak mudah.
Orang tua menjadi teladan pertama bagi anak-anak untuk memahami bahwa keberanian bukan berarti tidak memiliki rasa takut. Keberanian tumbuh ketika seseorang tetap berusaha melakukan hal yang benar, sambil mempercayakan hidupnya kepada Tuhan.
Seperti Paulus yang tetap berpegang pada pengharapan di tengah badai, anak-anak perlu dididik agar tidak mudah menyerah ketika berhadapan dengan tantangan. Mereka perlu mengenal doa, memahami firman Tuhan, dan belajar bahwa meminta pertolongan bukanlah tanda kelemahan.
Di tengah ancaman kabut asap, pendidikan iman dalam keluarga juga dapat berjalan bersama tindakan nyata: menjaga kesehatan, saling memperhatikan, dan melindungi lingkungan tempat kehidupan bertumbuh.
Badai Boleh Datang, Pengharapan Jangan Hilang
Pada akhirnya, perenungan dari Kisah Para Rasul itu membawa jemaat kembali pada sebuah pertanyaan mendasar: ketika badai datang, akan menjadi seperti siapakah kita?
Apakah menjadi awak kapal yang diliputi kepanikan dan hanya mengandalkan kekuatan sendiri? Apakah menjadi penumpang yang kehilangan harapan? Ataukah belajar dari Paulus, yang tetap berpegang pada janji Tuhan meski berada dalam situasi yang mengancam keselamatannya?
Pertanyaan tersebut bukan hanya tentang badai di tengah laut. Ia juga menyentuh kehidupan sehari-hari, ketika manusia menghadapi penyakit, bencana, kecemasan terhadap keluarga, dan ketidakpastian masa depan.
Jemaat Hatalai diajak untuk tidak melarikan diri dari persoalan dengan mencari sandaran yang menjauhkan mereka dari Tuhan. Sebaliknya, Yesus Kristus ditegaskan sebagai sumber kekuatan dan pertolongan yang dapat diandalkan.
Berserah kepada Tuhan bukan berarti berhenti berusaha. Doa perlu berjalan bersama kepedulian, iman perlu diwujudkan dalam tindakan, dan pengharapan perlu disertai tanggung jawab untuk menjaga kehidupan.
Kabut mungkin masih menyelimuti daratan. Kekhawatiran mungkin belum sepenuhnya sirna. Namun, di tengah keadaan itu, jemaat diajak tetap menyalakan pengharapan, menguatkan satu sama lain, dan memercayakan masa depan kepada Tuhan.
Sebab, badai di laut dan kabut di darat adalah gambaran tentang rapuhnya kehidupan manusia. Tetapi bagi orang percaya, di tengah segala perubahan itu, kasih Tuhan tetap menjadi tempat berlabuh. Dia yang tidak pernah beranjak ketika manusia berada dalam ketakutan. (RED)