451 Tahun Ambon: Antara Usia, Janji dan Realitas Kota

Kota Ambon kini memasuki usia ke-451 tahun. Sebuah perjalanan panjang yang seharusnya tidak hanya dirayakan dengan panggung hiburan, seremoni, baliho ucapan selamat, maupun deretan kegiatan yang menghabiskan anggaran.

Usia 451 tahun semestinya menjadi momentum untuk bertanya lebih dalam: sejauh mana Ambon benar-benar berkembang dan menjadi kota yang lebih baik bagi warganya?

Sebab, ukuran kemajuan sebuah kota tidak semata-mata dilihat dari seberapa banyak gedung berdiri, jalan diperbaiki, pusat kuliner tumbuh, atau agenda festival semakin ramai. Kemajuan kota harus terasa dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.

Apakah warga semakin mudah mendapatkan pelayanan publik? Apakah kemacetan semakin terkendali? Apakah persoalan sampah semakin teratasi? Apakah ruang terbuka publik semakin tersedia? 

Apakah anak-anak Ambon mendapatkan pendidikan yang layak? Apakah masyarakat kecil memiliki ruang ekonomi yang cukup? Dan yang tidak kalah penting, apakah pembangunan telah dirasakan secara adil oleh seluruh warga?

Pertanyaan-pertanyaan itu penting diajukan ketika Ambon merayakan usia 451 tahun. Tidak dapat dipungkiri, Ambon telah mengalami banyak perubahan. Wajah kota terus bergerak. 

Infrastruktur berkembang, aktivitas ekonomi semakin beragam, sektor jasa dan UMKM tumbuh, teknologi mulai mengubah cara masyarakat berinteraksi dengan pemerintah maupun dunia usaha.

Ambon juga memiliki modal besar sebagai pusat pemerintahan, perdagangan, pendidikan, jasa dan kebudayaan di Maluku.

Tetapi di balik pertumbuhan tersebut, masih terdapat pekerjaan rumah yang belum selesai.

Kemacetan menjadi pemandangan yang semakin biasa. Persoalan sampah terus berulang. 

Drainase dan ancaman banjir masih menjadi masalah di sejumlah kawasan. 

Penataan ruang belum sepenuhnya mampu mengikuti pertumbuhan kota. Pedagang kecil membutuhkan ruang yang aman dan tertib untuk berusaha. Sementara sebagian masyarakat masih berhadapan dengan mahalnya biaya hidup.

Di sisi lain, pembangunan kota juga tidak boleh hanya berorientasi pada proyek fisik. Jangan sampai pembangunan terlihat megah di atas kertas, tetapi manfaatnya tidak signifikan bagi masyarakat.

Sebab, kota bukan sekadar beton, aspal dan bangunan. Karena itu, setiap rupiah anggaran yang dibelanjakan pemerintah harus kembali kepada kepentingan masyarakat dalam bentuk pelayanan yang lebih baik, lingkungan yang lebih sehat, ekonomi yang lebih kuat dan kehidupan yang lebih layak.

HUT Kota Ambon seharusnya tidak berhenti pada perayaan. Momentum ini justru harus menjadi ruang evaluasi.

Pemerintah kota perlu berani membuka catatan pembangunan secara jujur. 

Apa yang sudah berhasil?  Apa yang belum tercapai?  Program apa yang gagal?  Kebijakan mana yang perlu diperbaiki?

Keberanian melakukan evaluasi adalah tanda bahwa sebuah pemerintahan dewasa.

Masyarakat tidak membutuhkan pemerintah yang hanya pandai memproduksi slogan. 

Masyarakat membutuhkan kebijakan yang dapat mereka rasakan.

Jika pemerintah berbicara tentang kota yang maju, maka kemajuan itu harus terlihat dari pelayanan administrasi yang cepat, transportasi yang tertata, lingkungan yang bersih, pendidikan yang semakin baik, fasilitas kesehatan yang mudah diakses dan ekonomi masyarakat yang terus bergerak.

Begitu pula ketika pemerintah berbicara tentang kota yang nyaman. Kenyamanan tidak boleh hanya menjadi slogan promosi. 

Kenyamanan harus hadir di jalan-jalan kota, pasar, terminal, sekolah, lingkungan permukiman, ruang publik hingga kawasan pesisir.

Usia 451 tahun juga harus menjadi titik awal untuk melihat Ambon dalam perspektif yang lebih panjang.

Kota ini akan menghadapi tantangan yang semakin kompleks: perubahan iklim, pertumbuhan penduduk, keterbatasan lahan, tekanan terhadap lingkungan, perkembangan teknologi, transformasi ekonomi dan meningkatnya tuntutan masyarakat terhadap kualitas pelayanan publik.

Karena itu, Ambon membutuhkan perencanaan yang tidak hanya berpikir untuk satu atau dua tahun anggaran.

Kota membutuhkan visi jangka panjang. Pembangunan harus mampu menjawab pertanyaan sederhana: 

Ambon mau menjadi kota seperti apa dalam 10, 20 atau 30 tahun ke depan?

Jawabannya tidak boleh hanya datang dari ruang rapat pemerintah.

Masyarakat, akademisi, pelaku usaha, komunitas, pemuda, tokoh agama, tokoh adat dan kelompok rentan harus dilibatkan.

Sebab masa depan Ambon bukan milik pemerintah semata.

Masa depan Ambon adalah milik semua orang yang hidup, bekerja, tumbuh dan berharap di kota ini.

Di tengah arus pembangunan dan modernisasi, Ambon juga tidak boleh kehilangan jati dirinya.

Ambon memiliki sejarah panjang, budaya yang kaya, tradisi pela-gandong, musik, kehidupan komunitas dan karakter masyarakat yang menjadi kekuatan sosial kota.

Justru kota yang kuat adalah kota yang mampu berdiri di tengah perubahan tanpa kehilangan akar budayanya.

Ambon harus menjadi kota modern yang tetap Ambon.

Kota yang terbuka terhadap investasi, teknologi dan perubahan, tetapi tetap menjaga lingkungan, kebudayaan dan nilai-nilai sosial yang telah diwariskan lintas generasi.

Empat ratus lima puluh satu tahun adalah usia yang seharusnya membuat kita semakin matang, bukan semakin cepat berpuas diri.

Ambon telah melewati sejarah panjang. Tetapi sejarah tidak boleh hanya dikenang. 

Sejarah harus menjadi cermin untuk menentukan arah masa depan.

Maka perayaan HUT ke-451 Kota Ambon mestinya bukan hanya tentang "Ambon semakin maju", tetapi juga keberanian mengakui bahwa masih banyak yang harus dibenahi.

Jangan ukur keberhasilan kota dari meriahnya perayaan.

Ukur dari wajah masyarakatnya.

Apakah warga miskin semakin berkurang? Apakah anak muda memiliki masa depan?  Apakah UMKM semakin kuat? 

Apakah lingkungan semakin sehat? Apakah pelayanan publik semakin mudah?  Apakah pembangunan semakin adil?

Jika jawabannya ya, maka Ambon memang sedang tumbuh.

Namun jika masih banyak persoalan lama yang terus berulang, maka usia 451 tahun harus menjadi alarm untuk bekerja lebih serius.

Sebab pada akhirnya, kota yang hebat bukan kota yang paling ramai dipuji, melainkan kota yang paling mampu membuat warganya merasa aman, dihargai, dilayani dan memiliki masa depan.

 

Selamat ulang tahun ke-451 Kota Ambon.

Bukan sekadar bertambah usia, tetapi harus bertambah dewasa.