-
Discover
-
Spotlight
- Jelajahi Orang
Kutikata.com 2026
Catatan DR. Fahmy Salatalohy
Akademisi Universitas Islam Negeri AM Sangadji Ambon
AMBON, KutiKata.com— Jalan Salib, atau Via Dolorosa, bukan sekadar rangkaian adegan tentang jam-jam terakhir kehidupan Yesus Kristus. Ia adalah ruang perenungan yang sunyi, tempat manusia diajak menyentuh kembali makna penderitaan, pengorbanan, dan kasih yang melampaui batas-batas keyakinan.
Dalam tradisi umat Kristiani, khususnya pada Jumat Agung, Jalan Salib menjadi momen untuk mengingat kembali pengorbanan itu. Namun, di balik prosesi yang tampak, tersimpan lapisan makna yang lebih dalam—tentang kemanusiaan yang rapuh, tetapi tetap bertahan.
Refleksi ini datang dari seorang akademisi Universitas Islam Negeri (UIN) AM Sangadji Ambon, Dr. Fahmy Sallatalohy. Sebagai seorang Muslim, ia mengakui bahwa menulis tentang Jalan Salib bukanlah hal yang mudah.
Ada keraguan yang lama ia simpan. Bukan karena tidak menghargai, tetapi justru karena rasa hormat yang begitu besar. Ia khawatir kata-katanya keliru, atau tanpa sadar menyentuh sisi paling sakral dari keyakinan saudaranya yang Kristiani.
“Ada semacam kehati-hatian batin,” ungkapnya. “Apakah saya cukup mengerti untuk menulisnya? Apakah empati saya cukup dalam untuk tidak melukai?”
Pertanyaan-pertanyaan itu tidak segera menemukan jawaban. Namun, dari situlah ia mulai berjalan—bukan untuk memahami sepenuhnya, melainkan untuk mencoba merasakan.
Ia mengamati prosesi Jalan Salib, khususnya di Jemaat Galala dan Hative Kecil, Ambon. Awalnya, yang tampak hanyalah rangkaian adegan. Tetapi perlahan, potongan-potongan itu berubah menjadi kisah yang utuh—tentang luka, kesetiaan, dan kemanusiaan.
Dalam setiap langkah yang tertatih, ia melihat lebih dari sekadar peragaan. Ada beban yang tidak terucapkan. Ada kelelahan yang tidak diminta. Ada tatapan yang menyimpan sesuatu yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Ketika sosok yang memanggul salib itu terhuyung dan jatuh, suasana seakan berhenti. Itu bukan lagi sekadar adegan. Ada getaran lain—seolah yang jatuh bukan hanya tubuh, tetapi juga harapan, harga diri, bahkan kekuatan yang selama ini dipertahankan.
Di titik itu, jarak antara melihat dan merasakan menjadi semakin tipis.
Ia mulai memahami bahwa makna tidak selalu hadir dari keseluruhan peristiwa, melainkan justru dari detail-detail kecil yang sering terlewatkan: langkah yang goyah, napas yang tertahan, atau diam yang terlalu berat untuk dijelaskan.
Jatuh, dalam prosesi itu, tidak lagi menjadi milik satu tokoh. Ia menjadi milik banyak orang—milik siapa saja yang pernah runtuh diam-diam, yang pernah kehilangan kekuatan tanpa sempat terlihat.
Di situlah, menurutnya, makna penderitaan Yesus menjadi begitu nyata: bukan sekadar kisah tentang derita, tetapi tentang keteguhan untuk tetap berjalan, bahkan ketika dunia terasa terlalu berat untuk dipikul sendirian.
Ada kesetiaan yang sunyi di sana—kesetiaan untuk terus melangkah, meski tubuh dan hati sama-sama letih.
Dan ketika sosok itu bangkit kembali, dengan langkah yang masih goyah, yang terasa bukanlah kekaguman, melainkan keheningan yang mengiris. Sebab dalam kehidupan nyata, tidak semua orang memiliki kesempatan atau kekuatan untuk bangkit secepat itu.
Ada yang tetap tertinggal dalam jatuhnya. Ada yang terus berjalan sambil menyembunyikan luka yang belum sembuh.
Dari situlah ia memahami, bahwa yang paling menyentuh bukanlah adegannya, melainkan makna yang perlahan meresap: bahwa hidup sering mempertemukan manusia dengan luka yang tidak dipilih, dengan jatuh yang tidak direncanakan. Namun selalu ada satu hal yang tersisa—kemauan untuk tetap melangkah.
Sebagai seorang Muslim, ia memandang Jalan Salib bukan hanya sebagai ritual keagamaan, tetapi sebagai cermin kemanusiaan.
Prosesi itu, katanya, memantulkan wajah manusia hari ini—mereka yang diam-diam memikul beban hidup, yang jatuh tanpa banyak disadari, dan yang bangkit tanpa sorotan.
Di sepanjang jalan itu, salib yang dipanggul terasa lebih dari sekadar simbol. Ia menjadi lambang dari luka yang tak terlihat, kelelahan yang tak terucapkan, dan kesunyian yang sering kali hanya dipahami oleh diri sendiri.
Ketika sosok itu ditampar, terhuyung, lalu jatuh di hadapan banyak orang, ada sesuatu yang pecah di dalam hati. Seolah yang runtuh bukan hanya tubuh, tetapi juga harapan dan kekuatan yang selama ini dijaga.
Namun yang paling menyayat bukanlah jatuhnya, melainkan keharusan untuk bangkit kembali.
Dengan tubuh yang gemetar dan luka yang belum pulih, langkah itu harus dilanjutkan. Seolah hidup tidak memberi ruang untuk berhenti, apalagi menyerah.
Di situlah terlihat kekuatan yang paling dalam—bukan kekuatan untuk melawan, tetapi kekuatan untuk bertahan.
Dalam diamnya prosesi itu, tersimpan begitu banyak cerita yang tak terucapkan: tentang kehilangan yang harus disembunyikan, tentang ketidakadilan yang diterima tanpa suara, tentang beban yang terlalu berat untuk dijelaskan.
Jalan Salib menjadi bahasa sunyi bagi semua luka yang tidak sempat diungkapkan.
Pada akhirnya, yang tertinggal bukan hanya ingatan tentang sebuah peristiwa, tetapi rasa yang menetap di dalam dada: bahwa menjadi manusia berarti siap untuk terluka, jatuh, dan berjalan dalam ketidakpastian.
Namun di balik semua itu, selalu ada harapan—kecil, rapuh, tetapi tidak pernah benar-benar padam—yang membuat manusia terus melangkah, bahkan ketika air mata jatuh tanpa terlihat. (*)